Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

5 Cara Bercocok Tanam Hidroponik Bagi Pemula di Rumah

5 Cara Bercocok Tanam Hidroponik Bagi Pemula di Rumah - Perkembangan Hidroponik semakin pesat semenjak diperkenalkan pertama kali oleh Dr. WF. Gericke di Universitas California, Amerika Serikat. Banyak orang berminat bercocok tanam dengan hidroponik dengan tujuan komersil maupun menyalurkan hobi mereka. Bahkan kini, hidroponik dapat dilakukan dengan cara yang mudah dan tidak terlalu ribet.

Disini kami akan memberitahu sistem cocok tanam yang mungkin bisa kalian coba dirumah.

5 Cara Bercocok Tanam Hidroponik Bagi Pemula di Rumah

  1. Sistem Sumbu (Wick System)
  2. Irigasi (drip system)
  3. Pasang Surut (ebb & flow)
  4. NFT (nutrient film technique)
  5. Rakit Apung (water culture)

Selanjutnya kita akan membahas bagaimana cara kerja dari masing-masing metode yang telah kita bahasi tadi,

1. Sistem Sumbu (Wick System)

Pada metode hidroponik tanaman wick system ini tergolong sangat sederhana, sesuai namanya sistem sumbu karena dalam pemberian nutrisi dilakukan melewati akar tanaman yang dibantu penyalurannya menggunakan media berupa sumbu. Seperti biasa dalam penanaman hidroponik bahan yang digunakan antara lain adalah  kerikil, arang sekam, rockwool, sabut kelapa, dan media penopang lain yang bukan berasal dari tanah.

Hidroponik dengan metode ini sangat cocok sekali bagi anda yang pertamakali baru mengenal bercocok tanam dengan hidroponik. Karena bentuknya yang lebih sederhana sehingga sangat mudah untuk dipelajari.

Untuk mencoba sistem hidroponik yang paling mudah ini, diperlukan beberapa barang seperti botol bekas atau wadah-wadah bekas lain yang bisa ditemukan di sekitar kita. Prinsip kerja hidroponik sumbu ialah dengan menempatkan nutrisi pada potongan botol bagian bawah. Nutrisi tersebut akan menjalar melewati kain sumbu ke atas dan berada di antara media tanaman sehingga akar tanaman memperoleh nutrisi.

Kelebihan Sistem Sumbu:

  • Biaya untuk mengumpulkan bahan yang diperlukan tergolong sangat murah.
  • Bentuk yang sederhana dan pembuatannya yang mudah memungkinkan hidroponik wick bisa dilakukan oleh siapa saja.
  • Dikarenakan menggunakan media penyalur berupa sumbu maka frekuensi penambahan nutrisi bisa lebih jarang.
  • Tidak perlu mengeluarkan dana khusus untuk membayar biaya listrik sebagaimana ditemukan pada sistem hidroponik lain.
  • Mudah untuk dipindahkan.

Kekurangan Sistem Sumbu:

  • Jumlah tanaman yang dihidroponikkan apabila berjumlah banyak maka akan sedikit sulit dalam mengontrol pH air.
  • Hanya cocok untuk jenis tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Hal ini disebabkan oleh kemampuan kapiler sumbu dalam menyalurkan nutrisi bersifat terbatas.

2. Sistem Irigasi (Fertigasi)


Drip system atau sistem irigasi atau fertigasi jua termasuk salah satu cara bercocok tanam hidroponik yang paling sering digunakan sang para petani dunia. Sistem irigasi lebih terkenal buat menanam sayuran misalnya cabai, terong, timun jepang, paprika, & tomat. Sedangkan buat buah yg paling umum ditanam dengan sistem irigasi merupakan butir melon & stroberi.

Teknik irigasi dianggap lebih ekonomis biaya. Hal ini bisa terlihat dalam aktivitas pemupukan yg bisa dikurangi lantaran pupuk hanya diberikan bersamaan dengan proses penyiraman. Selain itu, sistem irigasi menaikkan efisiensi pemakaian unsur hara lantaran hadiah pupuk hanya sedikit tetapi kontinyu. Kemungkinan kehilangan unsur hara misalnya nitrogen, fosfor, kalium, sulfur, seng, & zat besi akibat pencucian dan denitrifikasi pula ikut berkurang apabila memakai teknik fertigasi.

Untuk memulai bercocok tanam menggunakan sistem hidroponik irigasi ada beberapa alat yang diperlukan serta ruangan yang cukup besar, seperti dripper, nipper, microtube, wadah penampungan nutrisi, pompa, pipa nutrisi, polybag, dan timer. Prinsip dasar sistem irigasi merupakan dengan mengalirkan larutan nutrisi dalam bentuk tetesan yang berlangsung secara kontinyu, terus menerus, dan sesuai takaran.

Sistem bercocok tanam ini nir memakai media tanam tanah. Beberapa yang kerap digunakan misalnya bubuk sabut kelapa, sekam padi, perlit, vermikulit, & zeolit. Sedangkan yang benar-benar lebih seringkali dipilih sebagai media tanam merupakan cocopeat & sekam padi dikarenakan lebih murah & gampang buat didapat.

Kelebihan Sistem Fertigasi:

  • Waktu pemberian nutrisi harus sesuai dengan ukuran kedewasaan tanaman.
  • Dikarenakan menggunakan media selain tanah, maka memungkinkan akar tanaman lebih mudah tumbuh dan berkembang.
  • Menjamin kebersihan dan bebas dari penyakit.
  • Apabila serius dalam menjalankannya, maka sistem hidroponik fertigasi skala besar bisa menjadi ladang penghasilan yang cukup besar.
  • Hasil tanaman yang didapat lebih banyak dan mempunyai kualitas yang lebih baik.
  • Penggunaan nutrisi atau pupuk yang tepat.

Kekurangan Sistem Fertigasi:

  • Modal yang dibutuhkan untuk menyiapkan instrumen atau komponen perancang relatif tinggi.
  • Diperlukan wawasan lebih luas dan mendalam mengenai tanaman.
  • Perawatan ladang yang harus selalu dikontrol secara berkelanjutan.
  • Apabila terjadi gangguan atau kesalahan dan bahkan kerusakan pada sistem pengairan, maka akan berpengaruh terhadap hasil pertanian.

3. Pasang Surut (EBB & Flow)


Teknik pasang surut merupakan cara bercocok tanam hidroponik yg menganut sistem kerja dengan membanjiri wadah penampung berisikan flora dengan air yg mengandung unsur hara atau nutrisi selama periode waktu tertentu. Kemudian, air nutrisi yang dialirkan tadi akan pulang ke loka penampungan air nutrisi, & proses akan berlangsung monoton secara berulang.

Pada sistem pasang surut, dibutuhkan pompa air yg sudah diatur menggunakan timer. Pompa air ini dibenamkan pada wadah air bernutrisi buat melakukan proses pembanjiran & penyurutan menggunakan ketika yg telah diatur. Jika pompa menyala, maka proses pembanjiran terjadi. Begitupun di ketika pompa mati mendorong air, maka terjadilah penyurutan. Pompa adalah komponen yang memiliki kiprah paling penting pada sistem hidroponik pasang surut.

Kelebihan Sistem Pasang Surut:

  • Persediaan oksigen yang diperlukan oleh tanaman berjumlah lebih banyak dan lebih baik karena sistem pasang surut tersebut.
  • Kegiatan perawatan dan pemantauan lebih mudah karena tidak perlu melakukan penyiraman tanaman secara manual.

Kekurangan Sistem Pasang Surut:

  • Pompa yang dipakai membutuhkan aliran listrik agar bisa beroperasi dengan baik. Dengan begitu, maka terjadi ketergantungan pada listrik sehingga apabila listrik tiba-tiba mati, maka pompa jadi tidak berfungsi dan proses pasang surut untuk menutrisi tanaman tidak akan terjadi. Hal tersebut jelas berpengaruh pada akar tanaman dan hasil pertanian.
  • Dikarenakan sistem perputaran nutrisi, maka kualitasnya akan berkurang setelah dipompa berkali-kali.

4. Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

Sistem NFT pertama kali dikembangkan oleh Dr. A.J. Cooper pada Glasshouse Crops Research Institute, Inggris. Cara bercocok tanam hidroponik dengan teknik ini merupakan menggunakan menempatkan akar flora dalam genre nutrisi yg dangkal sehingga nir terendam sepenuhnya. Dengan begitu, maka tumbuhan akan memperoleh nutrisi berupa nutrisi dan oksigen secara optimal.

Posisi flora yang tumbuh dalam lapisan genre nutrisi yg dangkal membuat sebagian akar akan terendam & memperoleh nutrisi, & sebagian lainnya berada pada atas memperoleh oksigen. Nutrisi yg disediakan untuk tanaman akan diterima oleh akar secara terus menerus menggunaakn pompa air yg ditempatkan dalam penampung nutrisi yang disusun sedemikian rupa supaya pengaliran menjadi efektif.

5. Sistem Rakit Apung (Water Culture)

Water culture system merupakan cara bercocok tanam hidroponik modern yg dikembangkan sang Massantini pada tahun 1976 pada Italia & Jensen pada tahun 1980 di Arizona. Hidroponik rakit apung merupakan pengembangan menurut sistem bertanam hidroponik yang dapat digunakan buat kepentingan komersial menggunakan skala akbar ataupun skala tempat tinggal tangga. Penanaman sayur dengan sistem rakit apung diletakkan di atas gabus atau styrofoam yang telah dibolongi & diletakkan pada atas larutan nutrisi.

Pada sistem hidroponik jaring apung, Anda yang mempunyai segudang aktivitas harian tetap sanggup melakukan proses bertani pada tempat tinggal dikarenakan sistem ini dapat bergerak secara berdikari tanpa mempunyai ketergantungan terhadap komponen indera semisal pompa yang menjalankan sistemnya. Hidroponik apung pula termasuk teknik yang nir terlalu banyak memakan biaya, bahan yg diharapkan pun mampu diperoleh secara cuma-cuma.

Cara kerja sistem jaring apung adalah dengan membiarkan flora mengapung bersama styrofoam di atas larutan nutrisi yang terus menggenang sebagai akibatnya akar menerima suplai nutrisi terus menerus tanpa takut kehabisan. Dengan metode sistem rakit apung, selain nir memerlukan huma akbar, flora yg diterapkan juga tidak rentan layu dampak kurangnya air dan larutan nutrisi dengan catatan jumlah minimal nutrisi harus terus tersedia di dalam kolam.

Dari kelima metode yang telah dijelaskan kalian dapat menyesuaikan metode mana yang menurut kalian paling cocok untuk kalian terapkan, 

Post a Comment for "5 Cara Bercocok Tanam Hidroponik Bagi Pemula di Rumah"